Wednesday, 23 November 2016

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI TERHADAP KESEHATAN DI MASYARAKAT


IMPLEMENTASI TEKNOLOGI TERHADAP KESEHATAN DI MASYARAKAT
  
Wawasan IPTEK



Kelompok 7 Bidang Minat Kesehatan Lingkungan Semester 5


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2016


BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan teknologi, maka tidak hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang telah memanfaatkan teknologi sebagai pemenuhan tujuan-tujuannya. Sektor kesehatan pun merupakan salah satu sektor pembangunan yang sangat potensial untuk dapat diintegrasikan dengan kehadiran teknologi di dalamnya.
     Terminologi teknologi berasal dari kata Yunani techne, artinya seni (art) atau keterampilan (craft) (Hall, 2002). Sehingga dari kata techne diturunkan kata teknik dan teknologi. Teknik adalah cara, metode, atau kemampuan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan keterampilan dalam bidang tertentu.
     Implementasi teknologi pada kesehatan tercantum pada UU RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang tercantum dalam pasal 42 menyatakan:
Ayat 1. Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan, diteliti, diedarkan, dan dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat.
Ayat 2. Teknologi kesehatan sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (1) mencakup segala metode dan yang digunakan untuk mecegah terjadinya penyakit, mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat penyakit, menyembuhkan, memperkecil komplikasi dan memulihkan kesehatan setelah sakit.
     Revolusi teknologi di bidang kesehatan yang telah dicapai sampai saat ini merupakan ciri yang bermakna dalam kehidupan modern. Walaupun demikian kekuatan teknologi harus dimanfaatkan secara hati-hati dan penuh tanggung jawab, untuk menjamin bahwa kita menerapkan secara efisien dan manusiawi. Penggunaan teknologi kesehatan yang tepat melibatkan tidak hanya penguasaan ilmu pengetahuan, peralatan teknik atau mesin dan konsep-konsep tetapi juga untuk mengetahui masalah-masalah ekonomi, etika, dan moral (Raymond, 1998).

1.2    Rumusan Masalah
Apa saja pengimplementasian teknologi terhadap kesehatan di masyarakat?

1.3    Tujuan Masalah
Mengetahui pengimplementasian teknologi terhadap kesehatan di masyarakat. 


BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Implementasi Teknologi dalam Kesehatan
Undang-undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dalam pasal 42 menyatakan bahwa:
Ayat 1. Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan, diteliti, diedarkan, dan dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat.
Ayat 2. Teknologi kesehatan sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (1) mencakup segala metode dan yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit, mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat penyakit, menyembuhkan, memperkecil komplikasi, dan memulihkan kesehatan setelah sakit.
     Dalam penerapan teknologi dalam kesehatan, banyak masih ditekankan pada bidang medis. Bidang medis yang mencakup kuratif dan rehabilitatif menerapkan teknologi biasanya menunjukkan perbaikan dalam diagnosis dan ketepatan diagnosis. Contoh teknologi diagnostik baru adalah Multislice CT (Computerized Tomograph). Scanner yang lebih baik bila dibandingkan dengan CT scan tipe lama. Teknologi terapi baru, seperti intervensi endovaskuler, transplantasi organ, organ buatan (Artificial Organ), katup jantung prostetik. Adapula teknologi yang sudah dikenal, yaitu MRI (Magnetic Resonance Imaging).
     Teknologi medis diklasifikasi menjadi tiga golongan utama:
a.       Perbekalan medis atau medical supplies, misalnya benang jahit untuk operasi, protesis, macam-macam kateter, film x-ray, macam-macam perban, dan sebagainya.
b.      Peralatan medis atau medical devices, misalnya alat-alat laboratorium klinik, alat-alat bedah, mikroskop, CT-Scan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), USG (Ultrasonografi), EKG (Elektrokardiografi), elektroterapi, alat pengukur tekanan darah, dan sebagainya.
Bahan-bahan kimia medis (medical chemical), seperti bahan obat, vaksin, reagen diagnostik. 

     Meningkatkan kualitas hidup adalah salah satu keuntungan atas mengintegrasikan inovasi-inovasi baru dalam medik. Teknologi medik seperti bedah minimal invasive, sistem monitoring lebih baik, dan alat peninjau (scanner) lebih nyaman yang memperbolehkan pasien untuk menghabiskan waktu lebih sedikit dalam pemulihan dan lebih banyak waktu untuk menikmati hidup sehat.
     Rumah sakit merupakan pelaksana rujukan medis spesialistik dan super spesialistik mempunyai fungsi utama untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien. Perkembangan dan pembangunan rumah sakit telah berjalan secara terus menerus terutama yang menyangkut pengembangan sarana dan prasarana fisik, namun belum disertai dengan pengembangan manajemen rumah sakit secara menyeluruh termasuk manajemen pelayanan medik.

Kemajuan dan penerapan IPTEK berpengaruh pada pelayanan medik di rumah sakit. Pelayanan medik ialah salah satu jenis pelayanan rumah sakit yang mengelola pelayanan langsung kepada pasien, bersama-sama dengan pelayanan keperawatan dan pelayanan penunjang. Pelayanan medik sebagai suatu sistem terdiri dari:
1.      Masukan, seperti tenaga, organisasi, dan tata laksana, kebijakan dan prosedur, sarana dan prasarana medik, serta pasien yang dilayani (tenaga medik, ORTAL, kebijakan dan prosedur, sarana dan prasarana medik, pasien, dan dana);
2.      Proses pelayanan itu sendiri (Perencanaan, Pengorganisasian, Penggerakan, Pengawasan);
3.      Keluaran yang berupa pelayanan medik di rumah sakit (pelayanan medik optimal).
     Semua ini harus dievaluasi agar menghasilkan pelayanan medik yang bermutu.
     Perkembangan teknologi kesehatan sangat pesat sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu diperlukan upaya health technology assessment (HTA) oleh lembaga resmi pemerintah Indonesia seperti Kementrian Kesehatan agar pemanfaatan peralatan canggih menjadi efisien dengan keuntungan yang optimal bagi pasien.
     Untuk diagnosis penyakit kanker, jantung, dan otak, teknologi nuklir merupakan salah satu perkembangan yang sangat bermanfaat terutama setelah penggunaan alat hibrid seperti PET/CT dan PET/MRI. Pemanfaatan dalam bidang onkologi mendominasi aplikasi alat hibrid karena visualisasi kelainan tingkat molekuler sejalan dengan terapi yang akan dilaksanakan. Dalam telaah HTA penggunaan teknologi dalam bidang kesehatan mempunyai berbagai strata sehingga dalam pemanfaatan PET/CT yang harus dipertimbangkan adalah keuntungan bagi pasien.

Penggunaan teknologi informasi di dunia kesehatan adalah sebuah kebutuhan. Hal ini konsisten dengan program pemerintah, khususnya pada Menteri Komunikasi dan Informatika RI pada tahun 2005, Sofyan Djalil, yang mengacu pada tujuan yang akan dicapai oleh negara-negara dari KTT Dunia tentang Masyarakat Informasi (WSIS) pada tahun 2015, salah satu yang menghubungkan pusat-pusat kesehatan dan rumah sakit dengan teknologi informasi dan komunikasi (Djalil, 2005).
    Penggunaan sistem informasi yang sangat kompleks diimbangi dengan perkembangan kemajuan teknologi informasi akan dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Jenis-jenis kegiatan berbasis teknologi, seperti e-government, e-commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainnya, yang semuanya berbasiskan elektronika (Wayan Wardiana, 2002). Penggunaan teknologi tersebut dapat melalui fasilitas-fasilitas e-mail, website, pengisian formulir online dan lain sebagainya.
     Teknologi informasi telah membuat kontribusi signifikan di dunia, yaitu industri medik. Dengan kenaikan penggunaan electronic medical record (EMR), pelayanan telehealth, dan teknologi cepat seperti tablet dan smart phone, dokter dan pasien keduanya melihat keuntungan yang dibawa oleh teknologi medik baru ini.
2.1.1        Telemedika
Kemajuan teknologi informasi yang pesat telah menyebar sampai sektor kesehatan, salah satunya adalah dunia telemedika. Telemedika adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (termasuk telekomunikasi, komputer, dan eletronika) di bidang biomedika untuk mengirim dan menerima berbagai informasi kedokteran dari tempat satu ke tempat lainnya guna meningkatkan pelayanan klinis dalam mendiagnosa dan terapi kesehatan serta pendidikan medis. Pesatnya perkembangan telemedika diakibatkan oleh pesatnya perkembangan bidang-bidang yang mendukungnya, tersedianya prasarana dan saran teknologi, meningkatnya pemahaman pelaku terhadap bidang-bidang tersebut, serta untuk menyelesaikan masalah pelayanan kesehatan masyarakat merupakan kebutuhan nyata.
     Telemedika (telemedicine) diartikan sebagai penyampaian pelayan-kesehatan melalui jarak jauh, telah menyebar pemakaiannya ke seluruh dunia. Praktisi kedokteran dan kesehatan lainnya dapat berkomunikasi dengan lebih cepat dan lebih luas dengan teman sejawat dan pasiennya dimanapu dan kapanpun mereka berada. Telemedika, khususnya untuk pelayanan kesehatan masyarakat berpeluang memiliki pengaruh yang lebih penting bagi negara berkembang seperti Indonesia bila dibandingkan dengan negara maju. Dewasa ini, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang berbasis komputer telah berkembang dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia kesehatan (Lee, 2010). 

Telemedika membutuhkan keahlian dari bidang telekomunikasi, perawatan kesehatan dan teknologi informasi. Oleh karena itu telemedika merupakan multidisiplin ilmu. Teknologi telemedika dapat membantu penderita penyakit serta lembaga kesehatan untuk saling berbagi informasi dengan mudah dan cepat. Dewasa ini kemajuan dunia Information and Communication (ICT) yang berbasis komputer telah berkembang dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia kesehatan. Penggunaan teknologi pada dunia kesehatan seperti sistem pelaporan dan dokumentasi, registrasi, pembayaran, sistem pelayanan kesehatan langsung seperti monitoring pasien dan pemberian obat, menjadi lebih mudah, cepat, dan akurat dengan adanya perkembangan teknologi yang ada.
     Sebelum berkembangnya telemedika di Indonesia, selama ini baik di puskesmas maupun rumah sakit pada khususnya, pelayanan rekam medisnya masih dilakukan secara manual yaitu berbasis kertas (paper based document). Hal ini secara tidak langsung membebani kinerja tim medis yang seharusnya hanya memeriksa dan merawat pasien, namun mereka juga harus campur tangan masalah manajemen data rekam medis. Tim medis tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan pada akhirnya muncul kasus atau kelihan pasien mengenai buruknya pelayanan suatu pusat kesehatan masyarakat.
     Di Indonesia penggunaan telemedika sejak tahun 90-an, dan hingga saat ini telah mengalami perkembangan yang signifikan. Berkembangnya beragam aplikasi sistem telemedika berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia semakin mempermudah penyelesaian masalah nyata yang dihadapi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Berikut ini penjelasan singkat tentang beberapa sistem telemedika dan e-health serta beragam aplikasinya yang telah dilakukan dan dikembangkan di Indonesia:

1.      Telenursing
Telenursing adalah penggunaan teknologi dalam keperawatan untuk meningkatkan perawatan bagi pasien (Skiba, 1998). Dalam praktik telenursing, perawat tetap melaksanakan tahapan proses keperawatan yaitu perawat terus mengkaji pasien, menentukan diagnosis keperewatan, merencakan intervensi dan mengevaluasi hasil asuhan keperawatan, yang dilakukan dengan menggunakan teknologi modern seperti internet, komputer, telepon, alat penilaian digital, dan peralatan telemonitoring.
2.      Sistem Telemedika Puskesmas
Program Studi Teknik Biomedis Institut Teknologi Bandung sejak tahun 1997 telah memusatkan usahanya dalam pengembangan dan implementasi ICT berbasis telemedika dan e-health systems untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sistem telemedika puskesmas ini berfungsi untuk melakukan pencatatan dan pelaporan data, telekonsultasi, telekoordinasi, telediagnosis sederhana pada suatu puskesmas.
3.      Sistem Telemedika untuk Pengelolaan Wabah
Untuk membantu pelaksanaan pengelolaan (manajemen) wabah (outbreak management, biosurveillance), dapat digunakan sistem e-health: berbasis web (internet), berbasis jaringan telepon selular dan kombinasi keduanya. Sistem telemedika manajemen wabah ini terdiir dari sebuah stasiun monitor (komputer dengan perangkat lunak aplikasi dan basis data), sejumlah stasiun pelapor, dan jaringan telekomunikasi berupa jaringan internet dan/atau jaringan telepon selular.
4.      Sistem Resep Elektronik (e-Prescription System)
Sistem resep elektronik ini pada dasarnya berfunsi sebagai sistem pencatatan, pengolahan, dan pelaporan data pasien dan data obat (electronic medical record = EMR), diintegrasikan dengan suatu modul perangkat lunak resep elektronik. Perangkat lunak modul resep elektronik terutama berfungsi untuk memberikan informasi farmakologi tentang setiap obat yang tersedia, melakukan test reaksi obat merugikan, melakukan tes duplikasi obat, membantu perhitungan dosis obat, melakukan proses administrasi penggunaan dan pelaporan obat.
5.      Sistem e-Health untuk Manajemen Penyakit Tuberkulosis
Sistem e-Health untuk manajemen penyakit Tb ini dikembangkan berbasis internet dan mobile phone yang dapat digunakan untuk mengelolan pasien Tb di puskesmas atau di rumah sakit. Dengan adanya sistem ini diharapkan dapat mengurangi jumlah pasien Tb yang tidak melanjutkan pengobatannya.
6.      Sitem m-Health (mobile health)
Kunci utama pengembangan sistem m-health ini adalah pemahaman yang baik tentang pelayanan kesehatan berikut permasalahannya, fasilitas teknologi dan infrastuktur jaringan yang tersedia, kerjasama singergis berbagai pihak, serta inovasi yang dikembangkan secara konsisten dan berkelanjutan. Berbagai jenis aplikasi yang telah dikembangkan, seperti portable and ambulatory ECG, EEG, temperature; berbagai aplikasi berbasis SMS, sistem pencatatan dan pelaporan dan monitoring. Selain itu, juga berbagai jenis aplikasi sistem m-health untuk pengelolaan kesehatan ibu dan anak, serta Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan Masyarakat (SIPKM).
     Dengan lebih dan lebih rumah sakit dan klinik menggunakan teknologi medik seperti alat-alat mobile dalam pekerjaan, dokter sekarang dapat memiliki akses ke segala macam bentuk informasi yang mereka butuhkan—dari informasi obat, penelitian dan studi, sejarah atau rekam pasien, dan sebagainya—dalam hitungan detik. Dan dengan mudahnya membawa alat mobile ini sepanjang harinya, dokter tidak pernah jauh dari informasi yang mereka butuhkan.
7.           Peluang penggunaan teknologi mobile seluler (m-Health) sebagai strategi promosi kesehatan diharapkan mampu memfasilitasi informasi lebih dekat, menjangkau individu sehat tetapi tidak teratur kontak ke pelayanan kesehatan. Penggunaannya seluler di Indonesia 58% dari jumlah penduduk. Sama dengan sistem e-Health untuk Manajemen Penyakit Tuberkulosis, m-health hadir dalam bentuk SMS pengingat pada Tb, malaria, dan motivasi berhenti merokok.
Sebagaimana telah dijelaskan di ayat 2 dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan bahwa teknologi kesehatan digunakan untuk mencegah penyakit. Salah satu implementasi teknologi terdapat pada aplikasi mobile untuk memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan pengobatan HIV yang diluncurkan oleh UNAIDS. Aplikasi yang disebut iMonitor + ini memungkinkan pengguna mengakses layanan pencegagan dan pengobatan HIV, serta memberikan umpan balik terhadap kualitas layanan tersebut.
     Aplikasi ini pertama kali diperkenalkan di Bangkok, Thailand. Aplikasi ini pula menggunakan teknologi GPS untuk menemukan lokasi pengguna. Pengguna kemudian dapat mencari informasi di mana dia dapat mengakses kondom, tes HIV, konseling, serta pengobatan dan layanan penting lainnya.
    Lebih dari 100 relawan dari lima jaringan komunitas di Thailand, Indonesia, India, dan Filipina telah menjadi percontohan menguji iMonitor + untuk memberikan umpan balik dan menyesuaikan aplikasi untuk kebutuhan spesifik di masing-masing jaringan. Umpan balik dari masyarakat dan penyedia layanan akan memastikan keberlanjutan inovasi dan adaptasi dari aplikasi ini. iMonitor + bukan hanya alat pemantau partisipasif masyarakat yang penting untuk menjamin kualitas dan respon dari layanan HIV, tetapi juga dapat memberdayakan masyarakat untuk ikut memonitor layanan di banyak daerah.
     Karena konektivitas internet masa kini dan masuknya (smart) phone lebih dari perjalanan udara, dunia sekarang secara harafiah adalah sebuah desa global. Dengan tersedianya informasi dan alat-alat komunikasi bahkan di desa terpencil, ada potensi teknologi-teknologi dapat merevolusi penyampaian pelayanan kesehatan dan tindakan sebagai “game changer” untuk sistem pelayan kesehatan yang efisien dan memusatkan pada masyarakat. Sebagai contohnya, sistem peringatan awal selagi emergensi melalui pesan singkat, atau bahkan ketersediaan ponsel di desa terpencil dapat digunakan untuk menelpon pertolongan dalam peristiwa kelahiran yang sulit sehingga mencegah kematian ibu dan anak. Ponsel yang sekarang ini ada dimana-mana dengan 700 juta pengguna di India sendiri digunakan untuk melacak distribusi kelambu oleh program malaria.
     Demikian pula, informasi pesan teks pada kasus baru influenza dari rumah sakit mengatur sebagai bagian dari survei online atau menyiagakan pasien dengan diabetes atau stroke melalui pesan-pesan mengenai pengonsumsian obat mereka; melakukan sesi pembagian informasi melalui videoconferencing dan teleconferencing sehingga mengurangi angka interaksi atau pertemuan muka dengan muka; menggunakan e-mail untuk sarana yang cepat dan non-birokrasi komunikasi; pemetaan risiko melalui penggunaan sistem informasi geografis dan sistem posisi geografis; jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter untuk berita pertemuan; dan melaksanakan e-consultasions (konsultasi-konsultasi elektronik) klinis atau di sebelah pasien mengenai pasien di daerah terpencil atau pedesaan sebagai bagian dari telemedicine adalah beberapa aplikasi di mana teknologi modern dapat memodernisasi pelayanan kesebatan dan membawa efisiensi dan kualitas.
     Namun teknologi harus digunakan sebaik mungkin. Entah teknologi memberikan keuntungan atau kerugian akan besar tergantung dari cara menggunakannya. Aplikasi-aplikasi teknologi informasi/komunikasi yang berpotensi untuk kesehatan sampai memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan efisiensi, keselamatan dan kualitas dari pelayanan kesehatan benar-benar hebat. Semua negara harus menggunakan kesempatan keberadaan teknologi ini untuk membangun atau memperkuat dasar sistem e-Health-nya sebagai bagian dari program kesehatan sehingga meningkatkan pelayanan kesehatan.

 

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan 

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 jelas dinyatakan bahwa teknologi dan produk teknologi kesehatan untuk keuntungan kesehatan masyarakat.
     Teknologi medis diklasifikasikan menjadi tiga, yakni perbekalan medis atau medical supplies, peralatan medis atau medical devices, dan bahan-bahan kimia medis (medical chemical). Teknologi medis adalah integrasi inovasi baru demi meningkatkan kesehatan masyarakat.
     Kemajuan dan penerapan IPTEK berpengaruh pada pelayanan medic di rumah sakit. Pelayanan medik sebagai suatu sistem yang terdiri dari masukan, seperti tenaga, organisasi, dan tata laksana, kebijakan dan prosedur, sarana dan prasarana medik, serta pasien yang dilayani (tenaga medik, ORTAL, kebijakan dan prosedur, sarana dan prasarana medik, pasien, dan dana); proses pelayanan itu sendiri (Perencanaan, Pengorganisasian, Penggerakan, Pengawasan); keluaran yang berupa pelayanan medik di rumah sakit (pelayanan medik optimal). Perkembangan teknologi kesehatan sangat pesat sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu diperlukan upaya health technology assessment (HTA) oleh lembaga resmi pemerintah Indonesia seperti Kementrian Kesehatan agar pemanfaatan peralatan canggih menjadi efisien dengan keuntungan yang optimal bagi pasien.
     Penggunaan sistem informasi yang sangat kompleks diimbangi dengan perkembangan kemajuan teknologi informasi akan dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Jenis-jenis kegiatan berbasis teknologi, seperti e-government, e-commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainnya, yang semuanya berbasiskan elektronika (Wayan Wardiana, 2002). Penggunaan teknologi tersebut dapat melalui fasilitas-fasilitas e-mail, website, pengisian formulir online dan lain sebagainya.
     Telemedika merupakan kemajuan teknologi informasi yang pesat telah menyebar sampai sektor kesehatan. Telemedika adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (termasuk telekomunikasi, komputer, dan eletronika) di bidang biomedika untuk mengirim dan menerima berbagai informasi kedokteran dari tempat satu ke tempat lainnya guna meningkatkan pelayanan klinis dalam mendiagnosa dan terapi kesehatan serta pendidikan medis. Telemedika membutuhkan keahlian dari bidang telekomunikasi, perawatan kesehatan dan teknologi informasi.
     Di Indonesia penggunaan telemedika sejak tahun 90-an, dan hingga saat ini telah mengalami perkembangan yang signifikan. Berkembangnya beragam aplikasi sistem telemedika berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia semakin mempermudah penyelesaian masalah nyata yang dihadapi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.
     Implementasi teknologi dalam bidang pencegahan penyakit salah satunya iMonitor +. iMonitor + memungkinkan pengguna mengakses layanan pencegagan dan pengobatan HIV, serta memberikan umpan balik terhadap kualitas layanan tersebut. Pengguna kemudian dapat mencari informasi di mana ia dapat mengakses kondom, tes HIV, konseling, serta pengobatan dan layanan penting lainnya.
     Adapula pemanfaatan pesan singkat untuk sistem pelayan kesehatan yang efisien dan memusatkan pada masyarakat. Ini juga salah satu implementasi teknologi pada kesehatan di masyarakat. Sebagai contohnya, sistem peringatan awal selagi emergensi melalui pesan singkat, atau bahkan ketersediaan ponsel di desa terpencil dapat digunakan untuk menelpon pertolongan dalam peristiwa kelahiran yang sulit sehingga mencegah kematian ibu dan anak. Ponsel yang sekarang ini ada dimana-mana dengan 700 juta pengguna di India sendiri digunakan untuk melacak distribusi kelambu oleh program malaria.
    Teknologi memberikan dampat buruk atau baik tergantung bagaimana cara memakainya. Aplikasi teknologi informasi/komunikasi yang berpotensi untuk kesehatan sampai memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan efisiensi, keselamatan dan kualitas dari pelayanan kesehatan benar-benar hebat. Semua negara harus menggunakan kesempatan keberadaan teknologi ini untuk membangun atau memperkuat dasar sistem e-Health-nya sebagai bagian dari program kesehatan sehingga meningkatkan pelayanan kesehatan.
 

3.2    Saran
Teknologi memberikan dampak buruk atau baik semua dilihat dari cara pemakaiannya. Untuk di bidang kesehatan sendiri, teknologi dibutuhkan guna meningkatkan efisiensi dan mutu pelayanan. Sehingga sangat dianjurkan untuk menerapkan teknologi dalam bentuk mesin yang membantu dalam proses diagnosa maupun teknologi informasi dalam menyebarkan informasi dan promosi kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Erliana, Dewi dan Titik Kurniawati. 2015. Perbedaan Pengetahuan dan Persepsi Ibu Hamil Terhadap Penerapan Model SMS Gateway, (online) (http://journal.unnes.ac.id/artikel_nju/pdf /kemas/3382 diakses pada tanggal 1 Oktober 2016)

Healthcare News & Insights. Medical Technology, (online) (www.healthcarebusinesstech.com/medical-technology/ diakses pada tanggal 1 Oktober 2016)

K, Henni. 2009. Pengembangan Pelayanan Medik dan Keperawatan di Rumah Sakit, (online) (http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/iploads/2009/09/pengembangan_pelayanan_medik_dan_keperawatan.pdf diakses pada tanggal 29 September 2016)

Kardinah. 2012. Peranan Teknologi Akselerator di Bidang Kesehatan: Telaah Pemanfaatan Dalam Bidang Diagnostic Untuk Kanker, (online) (http://digilib.batan.go.id/e-prosiding/File%2520Prosiding/Kesehatan/Pros_akselerator/PTAPB_12Jan2012/Kardinah.pdf diakses pada tanggal 29 September 2016)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Teknologi Untuk Transformasi Sosial, (online) (promkes.depkes.go.id/2014/12/19/memanfaatkan-teknologi-untuk-transformasi-sosial/ diakses pada tanggal 30 September)

Santoso, Budi. 2015. Perkembangan dan Masa Depan Telemedika di Indonesia, (online) (https://www.researchgate.net/publication/28147363_PERKEMBANGAN_DAN_MASA_DEPAN_TELEMEDIKA_DI_INDONESIA diakses pada tanggal 30 September 2016)

Suhadi. Sistem Telemedika Berbasis ICT dalam Pengelolaan Masalah Kesehatan Komunitas, (online) (pkko.fik.ui.ac.id diakses pada tanggal 1 Oktober 2016)

World Health Organization. 2012. Role of Modern Technology in Public Health: Opportunities and Challenges, (online) (www.searo.who.int diakses pada tanggal 30 September 2016)